Kapal USS Houston Selat Sunda kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah tim peneliti internasional memastikan identitas bangkainya di dasar laut Indonesia. Temuan ini mengungkap kisah heroik sekaligus tragis pada Perang Dunia II yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam catatan sejarah dan cerita para veteran.
Penemuan ini tidak hanya menjadi bukti nyata sejarah, tetapi juga memperlihatkan betapa strategisnya perairan Selat Sunda dalam jalannya konflik di Asia Tenggara.
Sejarah Singkat Kapal USS Houston
Sebelum menjadi legenda di Selat Sunda, USS Houston (CA-30) adalah kapal penjelajah berat kelas Northampton yang diluncurkan pada 7 September 1929. Kapal ini memiliki panjang 185 meter, lebar 20 meter, dan kecepatan maksimum 32 knot.
Dilengkapi dengan sembilan meriam utama kaliber 8 inci, meriam anti-pesawat, dan peluncur torpedo, kapal ini menjadi salah satu andalan Armada Pasifik AS. USS Houston pernah menjadi kapal favorit Presiden Franklin D. Roosevelt, bahkan beberapa kali digunakan untuk perjalanan kenegaraan.
Misi di Perairan Asia Tenggara
Awal 1942, situasi di Asia Tenggara memburuk. Jepang bergerak cepat merebut wilayah-wilayah strategis, termasuk Hindia Belanda. USS Houston ditugaskan memperkuat kekuatan Sekutu di kawasan.
Namun, setelah Pertempuran Laut Jawa pada 27 Februari 1942 yang berakhir kekalahan Sekutu, kapal ini bersama HMAS Perth mendapat perintah mundur ke Tanjung Priok. Malam itu, mereka memutuskan mencoba menembus Selat Sunda untuk menuju Samudra Hindia.
1. Kapal USS Houston Selat Sunda Tenggelam pada 1942
Pada 28 Februari 1942 malam, USS Houston dan HMAS Perth berlayar tanpa mengetahui bahwa armada Jepang telah menutup Selat Sunda. Sekitar pukul 23.00, mereka bertemu konvoi kapal transport Jepang yang dikawal kapal perang.
Pertempuran sengit pun terjadi. HMAS Perth terkena torpedo pertama dan tenggelam tak lama kemudian. USS Houston terus bertempur meski kehilangan sebagian besar persenjataan akibat kerusakan.
Sekitar pukul 00.30, setelah dihantam beberapa torpedo dan tembakan artileri, Kapal USS Houston Selat Sunda akhirnya tenggelam bersama 643 awaknya.
2. Penemuan Dikonfirmasi Tim Peneliti Internasional
Lebih dari 80 tahun kemudian, tim gabungan peneliti Indonesia dan Amerika Serikat menggunakan teknologi sonar resolusi tinggi untuk memindai dasar laut. Bentuk lambung yang terlihat jelas, posisi meriam, dan ukuran kapal sesuai dengan catatan USS Houston.
“Berdasarkan pencocokan data historis dan visual, kami yakin 100 persen ini adalah USS Houston,” kata Dr. Andrew Millar, pimpinan tim arkeologi kelautan.
3. Kondisi Kapal yang Masih Terawat
Walau telah terkubur di kedalaman laut selama puluhan tahun, Kapal USS Houston Selat Sunda tetap mempertahankan bentuk utamanya. Karang dan biota laut telah menyelimuti permukaannya, namun ciri khas kapal penjelajah berat masih terlihat jelas.
Struktur meriam utama, dek, dan bagian menara navigasi tetap dapat dikenali. Kerusakan besar terlihat di buritan akibat hantaman torpedo Jepang, sesuai dengan catatan pertempuran 1942.
4. Lokasi Dijaga Ketat
Pemerintah Indonesia menetapkan lokasi bangkai Kapal USS Houston Selat Sunda sebagai situs bersejarah yang dilindungi. Penyusupan tanpa izin dilarang keras, mengingat kapal ini adalah makam perang bagi ratusan prajurit.
Penjarahan artefak maritim telah menjadi masalah global. Dengan pengawasan ketat, diharapkan bangkai kapal ini tetap terjaga dan menjadi sumber edukasi generasi mendatang.
5. Fakta Historis dari Penelitian
Penelitian terbaru mengungkap sejumlah fakta penting:
-
Kapal menghabiskan seluruh amunisi sebelum tenggelam.
-
Tanda kerusakan di buritan cocok dengan laporan tembakan torpedo Jepang.
-
Peralatan navigasi ditemukan masih di tempatnya.
-
Kapal condong miring ke kanan di dasar laut.
Temuan ini memperkuat kisah heroik awak USS Houston yang bertempur hingga amunisi terakhir.
6. Peran Strategis Selat Sunda
Selat Sunda merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan Laut Jawa dengan Samudra Hindia. Bagi Jepang, menguasai selat ini berarti mengamankan jalur pasokan menuju wilayah selatan.
Pertempuran yang menenggelamkan Kapal USS Houston Selat Sunda menjadi salah satu momen krusial yang mempercepat jatuhnya Jawa ke tangan Jepang.
7. Dokumentasi dan Edukasi Publik
Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk membuat dokumentasi 3D bangkai kapal. Teknologi ini memungkinkan publik mempelajari sejarah tanpa merusak situs aslinya.
Rencana ini termasuk pameran di museum maritim dan materi edukasi digital, agar cerita Kapal USS Houston Selat Sunda dapat diakses generasi mendatang.
Kutipan dari Sejarah dan Veteran
Beberapa catatan veteran yang selamat menggambarkan betapa sengitnya pertempuran malam itu.
Seaman First Class Archie Donahue, salah satu penyintas, menulis dalam memoarnya:
“Peluru dan torpedo datang dari segala arah. Kami tahu ini akhir, tapi kami tetap menembak sampai senjata terakhir tak lagi berfungsi.”
Kutipan ini memperkuat gambaran heroisme para awak kapal.
Baca Juga : Mengapa Planet Mars Berwarna Merah? Jawaban Terbaru 2025
Analisis Strategi Perang
Banyak sejarawan berpendapat bahwa kejatuhan Kapal USS Houston Selat Sunda tidak lepas dari lemahnya koordinasi Sekutu pada masa itu. Informasi intelijen tentang keberadaan armada Jepang di Selat Sunda terlambat diterima.
Sejarawan maritim Dr. Robert Hughes menyebutkan, “Pertempuran ini adalah contoh klasik dari pentingnya intelijen dan komunikasi dalam perang laut. Tanpa itu, bahkan kapal sekuat USS Houston bisa jatuh.”
Warisan Sejarah dan Pelestarian
Selain menjadi monumen sejarah, Kapal USS Houston Selat Sunda kini menjadi rumah bagi ratusan spesies laut. Kondisi ini membuatnya juga penting dari sisi ekologi.
Peneliti menegaskan bahwa pelestarian situs ini harus mempertimbangkan aspek sejarah dan lingkungan sekaligus.
Kesimpulan
Penemuan Kapal USS Houston Selat Sunda adalah tonggak penting dalam pelestarian sejarah Perang Dunia II di Asia Tenggara. Bangkai kapal ini menjadi saksi bisu keberanian dan pengorbanan ratusan prajurit yang gugur demi mempertahankan kebebasan.
Dengan dokumentasi yang tepat, edukasi publik, dan perlindungan ketat, situs ini akan terus menjadi pengingat bahwa laut Indonesia menyimpan kisah luar biasa yang tak boleh dilupakan.